June 15, 2024

Tabloidpengusaha.com

Tabloid Pengusaha | tabloid online | majalah online | majalah digital | majalah marketing

Kursi Emas Tim Sukses (‘Timses’) Setelah Kemenangan dalam Pilpres

2 min read

tabloidpengusaha – Kemenangan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pilpres tidak dapat dipisahkan dari peran penting tim sukses (‘timses’) yang bekerja di belakang layar.

Keberadaan timses dari setiap pasangan calon telah menjadi sorotan dalam pemilu sejak reformasi pada tahun 1998. Mereka selalu hadir dalam setiap tingkat kontestasi, mulai dari Pilpres, Pileg, Pilkada, hingga Pemilu Kepala Desa atau Pilkades.

Menurut Edward Aspinall dan Mada Sukmajati dalam buku “Politik Uang di Indonesia” (2015), tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut oleh para kandidat untuk membantu mempromosikan pencalonan dan memobilisasi pemilih. Kehadiran timses telah menjadi kebutuhan mendasar bagi seseorang yang akan ikut dalam kontestasi pemilu, karena tidak mungkin para kandidat dapat berjuang sendirian.

Muhtar Haboddin dalam “Dinamika Pilkada dan Demokrasi Lokal di Indonesia” (2016) menjelaskan bahwa komposisi timses sangat bervariasi, tetapi biasanya orang-orang dalam timses dipilih berdasarkan kedekatan atau kepercayaan para kandidat.

Seiring berjalannya sejarah pemilu Indonesia pasca reformasi, istilah ‘timses’ telah digantikan oleh berbagai sebutan untuk pasangan calon yang berlaga dalam Pilpres, seperti ‘Tim Kampanye Nasional’, ‘Badan Pemenangan Nasional’, ‘Tim Pemenangan Nasional’, ‘Tim Nasional Pemenangan’, dan lain sebagainya.

Selain itu, ketua timses biasanya diberikan jabatan menteri setelah pasangan calon yang mereka dukung memenangkan Pilpres. Sejak Pilpres 2004 hingga 2019, semua ketua timses paslon capres-cawapres yang memenangkan pemilihan pasti mendapatkan posisi menteri dalam kabinet.

Sebagai contoh, pada Pilpres 2004, Letjen (Purn) Muhammad Ma’ruf dipilih sebagai Ketua Timses pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Setelah kemenangan mereka dalam Pilpres, Ma’ruf diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri.

Pada Pilpres 2009, Hatta Rajasa, yang menjadi Ketua Timses pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di Kabinet Indonesia Bersatu II. Djoko Suyanto, wakil ketua timses, juga diangkat menjadi Menko Polhukam.

Pada Pilpres 2014, Tjahjo Kumolo, ketua timses pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, menjadi Menteri Dalam Negeri setelah kemenangan mereka dalam Pilpres. Pada Pilpres 2019, Erick Thohir, ketua timses pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, diangkat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Pilpres 2024 akan diikuti oleh tiga pasangan calon, dan diperkirakan ketua timses dari pasangan yang memenangkan pemilihan juga akan mendapatkan jabatan menteri. Para pasangan calon yang akan berlaga adalah Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.

Dalam perjalanan sejarah politik Indonesia, pola ini telah berlangsung dalam setiap Pilpres, di mana ketua timses yang sukses akan mendapatkan insentif berupa jabatan menteri setelah pasangan calon yang mereka dukung memenangkan pemilihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *