June 15, 2024

Tabloidpengusaha.com

Tabloid Pengusaha | tabloid online | majalah online | majalah digital | majalah marketing

Edi Darmawan Bantah Memberhentikan Karyawan Sepihak: Mereka yang Bubarkan Diri Sendiri

2 min read

tabloidpengusaha.com – Edi Darmawan Salihin, ayah dari almarhum Mirna Salihin, baru-baru ini memberikan tanggapan terhadap laporan dari puluhan mantan karyawannya. Menurut Edi, eks karyawannya yang melaporkannya ke polisi hanya ingin meminta uang lagi.

“Karyawan saya yang ribut itu ada 4774 orang, yang sudah ompong-ompong itu hanya 5 orang. Mereka sudah menerima uang semua. Ini saya lampirkan buktinya,” ujar Edi Darmawan Salihin seperti dilansir dari kanal YouTube Intens Investigasi pada Selasa, 14 November 2023. “Saya harap video penjelasan ini diunggah supaya semuanya jelas. Uangnya ke mana dan sekarang saya ikut ke pengadilan perdata sudah dinyatakan oleh pengacara bahwa PT FICC (Fajar Indah Cakra Cemerlang) harus mengganti, bukan saya,” paparnya.

Edi Darmawan menyatakan bahwa ia adalah pemilik pribadi gedung-gedung perusahaan tersebut. Ia bahkan menawarkan para mantan karyawannya untuk menjual gedung tersebut dengan janji akan diberikan insentif. “Saya adalah pemilik, saya orang pribadi yang memiliki gedung-gedung ini, dan mereka melihat masih banyak gedung saya. Saya bilang, jika kalian menjualnya dan berhasil, kita akan berbagi keuntungan. Jual saja, kalau bisa, mengingat situasi sulit seperti sekarang ini,” ungkap ayah Mirna Salihin.

Ayah Mirna Salihin menyatakan bahwa pemecatan para karyawan bukan atas keinginan dirinya, melainkan keputusan karyawan itu sendiri. Pemecatan dilakukan karena kartu kredit perusahaan terkena denda hingga miliaran.

“Saya ingin memberitahu teman-teman di FICC, saya katakan sekarang, saya jelaskan kepada pengacaranya mungkin mereka belum tahu, bahwa yang membubarkan PT FICC itu adalah karyawan sendiri,” jelas Edi Darmawan.

“Waktu itu saya menggunakan pengeras suara yang ada di Jakarta, saya berkata, ‘Hei, jangan sampai kita tidak bekerja ini, kartu kredit ini, tagihan kartu kredit, jika telat, kita akan dikenakan denda yang bisa mencapai miliaran. Itu bukan hal kecil, ini urusan yang sangat serius,'” tambahnya. Edi Darmawan menyebut bahwa mantan karyawannya hanya mengambil uang harian, namun setelah itu mereka melakukan boikot. Hal ini terjadi karena ia menerapkan sistem digitalisasi, mengingat saat itu sedang berada dalam masa pandemi.

“Sehari mereka mengambil uang harian, kemudian pergi dan tidak kembali, mereka memboikot kita. Karena saya menerapkan proses digitalisasi karena kita masih dalam masa pandemi. Tiba-tiba, mereka tidak bisa bekerja, bagaimana mungkin, orang-orang bergerombol begitu, bagaimana bisa bekerja,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *