June 15, 2024

Tabloidpengusaha.com

Tabloid Pengusaha | tabloid online | majalah online | majalah digital | majalah marketing

Guru Besar FK UPH: Pengelolaan Intervensi Nyeri sebagai Pilihan Terapi untuk Kanker

2 min read

tabloidpengusaha.com – Kanker menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Menurut data WHO, kanker menyebabkan 10 juta kematian pada tahun 2020 dan diperkirakan akan meningkat hingga 70 persen pada tahun 2030.

Dalam upaya menyembuhkan para pasien kanker, berbagai metode diterapkan karena selain dapat menyebabkan kematian, penyakit ini juga membawa penurunan kualitas hidup akibat nyeri yang dialami oleh para penderita. Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp.N(K), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, menjelaskan bahwa di Indonesia, sekitar 400 ribu orang menderita kanker, dan 120 ribu di antaranya mengalami nyeri. Kegagalan pengobatan nyeri menggunakan farmakologi analgesia mencapai 20 hingga 30 persen, sehingga jumlah penderita nyeri kanker yang memerlukan manajemen intervensi nyeri berkisar antara 24 hingga 36 ribu kasus.

“Nyeri kanker, meskipun tidak langsung menyebabkan kematian, merupakan gejala umum kanker yang dapat mengakibatkan disabilitas dan penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu, manajemen intervensi nyeri menjadi pilihan bagi penderita nyeri kanker,” ungkapnya. WHO mengatur tiga tahap pemberian opioid sebagai obat nyeri kanker, yaitu non-opioid untuk nyeri ringan, opioid ringan untuk nyeri sedang, dan opioid untuk nyeri sedang-berat.

Meskipun opioid efektif dalam meredakan nyeri kanker, mereka juga berinteraksi dengan sistem tubuh dan dapat menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, konstipasi, sedasi, pusing, halusinasi, dan depresi pernapasan. Oleh karena itu, Prof. Yusak mengusulkan tiga perubahan terhadap tahap penggunaan opioid dari WHO. Pertama, menghapus tahap kedua, yaitu opioid ringan untuk nyeri sedang. Kedua, memprioritaskan kenaikan intensitas nyeri sebagai pertimbangan untuk segera mengubah langkah pengobatan. Ketiga, merekomendasikan prosedur manajemen intervensi nyeri.

“Prosedur manajemen intervensi nyeri dapat dijadikan sebagai tahap keempat dalam panduan WHO untuk mengatasi nyeri pada penderita kanker. Semakin lengkapnya panduan ini menunjukkan bahwa manajemen intervensi nyeri sebaiknya tidak diabaikan atau diabaikan sebagai opsi pengobatan nyeri kanker karena dapat menggantikan peran opioid dan meningkatkan kualitas hidup penderita,” ujarnya. Tantangan ini juga menjadi peluang bagi mahasiswa dan alumni muda untuk mempertimbangkan bidang ini sebagai area pelayanan kesehatan di masa depan.

“Dengan optimalnya pelayanan manajemen intervensi nyeri, diharapkan dapat mengurangi penggunaan opioid jangka panjang, sehingga penderita kanker dapat terhindar dari efek samping, tetap memiliki kualitas hidup yang baik, dan fokus pada pengobatan kankernya,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *