June 15, 2024

Tabloidpengusaha.com

Tabloid Pengusaha | tabloid online | majalah online | majalah digital | majalah marketing

Keberhasilan Gerakan Boikot Produk Israel: Seberapa Besar Kerugiannya?

2 min read

tabloidpengusaha.com – Serangan yang semakin sering dilakukan oleh Israel di tanah Palestina telah mendorong meningkatnya dukungan terhadap gerakan boikot terhadap produk dari dan yang mendukung Israel di seluruh dunia. Beberapa perusahaan yang menjadi target boikot mulai merasa terancam dan memberikan klarifikasi karena gerakan ini dilaporkan telah berdampak pada penurunan jumlah pelanggan.

Meskipun belum ada laporan terbaru tentang nilai kerugian yang dialami oleh Israel, sebuah laporan Al Jazeera pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa gerakan boikot berpotensi menyebabkan kerugian hingga US$11,5 miliar atau sekitar Rp180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun bagi Israel. Israel sangat khawatir terhadap potensi kerugian ini, dan dalam beberapa waktu terakhir, misi prioritas diplomatik mereka adalah menanggulangi gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS).

Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah mengambil langkah-langkah untuk melarang kelompok-kelompok yang mendukung gerakan boikot. Hal ini dilakukan karena ribuan orang di Israel dapat kehilangan pekerjaan jika negara mereka menghadapi boikot penuh secara internasional.

Dampak dari gerakan boikot terhadap perekonomian Israel telah menjadi perdebatan. The Jerusalem Post melaporkan bahwa Israel membantah klaim bahwa gerakan boikot dapat merugikan mereka, sebaliknya, mereka mengatakan bahwa hal itu hanya akan “menambah penderitaan rakyat Palestina, bukan menguranginya.”

Brookings Institution, sebuah organisasi non-profit di Washington, Amerika Serikat (AS), menyatakan bahwa gerakan BDS tidak akan secara drastis mempengaruhi perekonomian Israel. Sebab, sekitar 40 persen dari ekspor Israel adalah barang “intermediet” atau produk tersembunyi yang digunakan dalam proses produksi di tempat lain, seperti semikonduktor. Selain itu, sekitar 50 persen dari ekspor Israel adalah barang “diferensiasi” atau barang yang tidak dapat digantikan, seperti chip komputer khusus.

Namun, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ekspor barang “intermediet” mengalami penurunan signifikan dari tahun 2014 hingga 2016, yang menyebabkan kerugian sekitar US$6 miliar atau sekitar Rp94,16 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *